Fenomena Palu Arit di Indonesia kini sudah merambah tahap demi tahap memasuki wilayah NKRI, dimulai dari pemilihan Presiden Jokowi yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia, didikan Megawati yang kini berusia 70 tahun. Palu Arit (tidak ada gambar), adalah kaum bawah atau rakyat kecil yang tidak mendalami agama secara sempurna, palu arit adalah golongan/kaum yang tidak mempunyai pegangan hidup, mereka adalah bigger awam, yang tidak mengetahui politik, awam dari agama dan lain sebagainya. Palu Arit kalau di luar negeri sebagai kamu buruh dan tani. Sejarah Tiongkok juga menyebutkan bahwa pemerintahan saat ini di Tiongkok dipegang oleh kaum Palu Arit yang tidak bertuhan. Kini dan dewasan ini, kaum palu arit yang berasal dari China sudah memasuki Indonesia yang katanya sebagai pencari kerja dengah harga murah, tetapi kenyataanya bahwa mereka mendominasi menjadi pekerja di tanah air (hal ini hanya didiamkan semata, tentu oleh penguasa sekarang. Palu Arit adalah simbol rakyat kecil paling kecil, mereka bergerak bebas di tanah air (sejarah telah mengungkapkan bahwa Palu Arit pernah dilarang berdiri di Indonesia, dengan komunisnya). Tetapi sekarang sepertinya, dan seakan mempunyai power karena didukung oleh orang-orang segala lini, baik hulu dan hilir. Urbanisasi dari China yang masuk ke wilayah Indonesia adalah kebijakan oleh Penguasa sekarang dengan visa bebasnya. Mereka bebas menjadi warganegara Indoensia dengan cara apapun juga. Disisi lain mereka akan dijadikan sumbu bahan peledak dalam pemenangan pilkada dan pilpres. Fenomena Palu Arit sangat berani dan go publik, dimana mereka telah menciptakan dan membuat kaos, pin, ikat kepala, identitas dengan menonjolkan palu aritnya. Tetapi sungguh aneh masyarakat kita sepertinya nafsi-nafsi, para ulama dibikin diam seribu bahasa, dan tidak bisa berbuat apa-apa?. Kita kurang kompak, kompak dalam menentukan pilihan, apakah kita akan bertahan sebagai warga negera Indonesia yang berPancasila, ataukah negara yang akan terkikis karena adanya Palu Arit ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar